
Sukses, merupakan sebuah kata yang selalu diinginkan dan didambakan setiap orang. Tetapi sayangnya banyak orang hanya berpikir bahwa kesuksesan menunjuk kepada seberapa banyak uang yang kita punya, seberapa banyak rumah, mobil, pabrik yang kita miliki. Kalau kesuksesan hanyalah menunjuk kepada seberapa banyak materi yang kita miliki, berarti sangat banyak orang tidak pernah mencapai kesuksesan, karena orang yang paling mempunyai banyak uang, mobil, rumah, pabrik tentulah hanya beberapa orang yang terkaya di dunia bahkan mungkin cuma 1 orang saja! Dialah yang paling sukses dan yang lainnya pecundang?Kesuksesan bukanlah menunjuk kepada banyaknya materi yang dapat kita miliki. Materi yang kita miliki hanyalah sebagian dari reward yang kita dapatkan akibat dari apa yang kita lakukan. Seorang pelajar / mahasiswa mendapatkan nilai yang baik hanyalah “akibat” dari penguasaan materi pelajaran / mata kuliahnya. Kesuksesan pelajar / mahasiswa sebenarnya terletak dalam penguasaan pelajaran / jurusan yang dia ambil dan penguasaan itu “termanifestasi” melalui karya / ujian yang dihadapinya dan sebagai reward maka dia mendapatkan nilai yang bagus. Demikian juga bagi seorang pengusaha, kesuksesannya “termanifestasi” dalam bentuk kompetensinya di pasar dan mendapatkan respon yang bagus dari konsumen sehingga reward yang dia dapatkan adalah banyaknya keuntungan dan naiknya harga sahamnya di pasar modal. Dan bagi olahragawan sudah pasti kesuksesan itu ditandai dengan reward yang dia dapatkan berupa piala.Sebenarnya kesuksesan menunjuk kepada tercapainya sebuah tujuan, pengembangan kapasitas / potensi, dan kehidupan yang damai. Untuk itu, jika kita ingin mengukur sebuah kesuksesan, perhatikan ke-3 parameter tersebut.
1. Tercapainya sebuah tujuan
Kesuksesan dapat tercapai jika kita mengetahui tujuan kita. Tujuan hidup kita, tujuan kita menempuh studi, tujuan kita bekerja di perusahaan anu, tujuan kita merintis sebuah usaha, tujuan kita berpacaran, tujuan kita menikah, dan banyak lagi. Jika kita sendiri tidak mengetahui tujuan kita, bagaimana mungkin kita menyatakan bahwa kita mencapai kesuksesan? Karena kita sendiri tidak mengetahui apa yang akan dan apa yang sedang kita capai, akibat tidak adanya tujuan. Untuk itu ambilah waktu tenang, renungkan arti kehidupan kita. Rencanakan dan tetapkan tujuan hidup kita dengan baik. Jika kita mengutip pernyataan hikmat Raja Salomo: “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing”, berarti setiap dari kita ada karena suatu tujuan dan dapat dikatakan bahwa kesuksesan merupakan tergenapinya rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Kita ada bukan karena kebetulan melainkan untuk suatu tujuan. Temukan dan raihlah itu. Tidak ada sukacita yang besar selain merayakan keberhasilan mencapai sebuah tujuan.
2. Pengembangan kapasitas / potensi
Kesuksesan bukanlah diukur berdasarkan perbandingan diri kita dengan orang lain. Tetapi kesuksesan merupakan berhasilnya perubahan diri kita ke arah yang lebih baik, atau dapat dikatakan bahwa kesuksesan merupakan sebuah perjalanan “kesetiaan” kita dalam menerima, mengenali, menggali dan mengembangkan potensi diri. Jika dulu kita adalah seorang pemalas dan sekarang telah menjadi seorang yang rajin, itu adalah sebuah keberhasilan. Jika dulu kita adalah seorang yang tidak mampu berbahasa Inggris dan sekarang fasih berbahasa Inggris, itu adalah sebuah keberhasilan. Jika dulu kita tidak mampu menulis dan sekarang menjadi seorang penulis, itu adalah sebuah keberhasilan. Jika dulu kita adalah seorang yang hanya mampu berbicara didepan 5 orang dan sekarang menjadi seorang trainer, itu adalah sebuah keberhasilan. Jika diri kita berubah menjadi lebih baik daripada sebelumnya, potensi berkembang, itu adalah kesuksesan. Seperti kisah seorang hamba yang dipercaya tuannya untuk memegang dan mengelola talenta tuannya, jika hamba itu berhasil mengembangkan talentanya, maka tuannya akan berkata: “Bagus, engkau pelayan yang baik dan setia. Karena engkau dapat dipercayai dengan yang sedikit, saya akan mempercayakan yang banyak kepadamu. Masuklah dan ikutlah bersenang-senang dengan saya!”. Oleh sebab itu lihatlah diri kita, temukan potensi dan kembangkanlah itu. Dan rayakanlah setiap kesuksesan dari pengembangan kapasitas / potensi diri kita serta mengucap syukurlah.
3. Kehidupan yang damai
Kesuksesan tidak cukup hanya diukur dari “tercapainya sebuah tujuan” dan “pengembangan kapasitas / potensi” karena kesuksesan akan menjadi berarti dan menjadi lengkap jika kita bisa menikmati kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Buat apakah kita mencapai segalanya tetapi tidak dapat menikmati kehidupan ini akibat mempunyai banyak musuh dan hilangnya damai sejahtera dalam hidup kita? Berdamai dengan Sang Pencipta, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan keluarga, berdamai dengan sekitar kita, akan membuat kesuksesan menjadi utuh dan lengkap.Mengapa “kehidupan yang damai” merupakan ukuran kesuksesan? Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak pernah diciptakan untuk hidup sendiri melainkan manusia diciptakan untuk hidup bersama. Hubungan yang kita bangun dengan orang lain, sangatlah berpengaruh bahkan menentukan masa depan kita. Bahkan dapat dikatakan bahwa kesuksesan manusia sangatlah dipengaruhi oleh hubungan yang dia bangun dan permasalahan dalam hidup manusia hanyalah “berkutat” seputar hubungan. Oleh sebab itu semakin baik hubungan yang kita bangun dan semakin kita menikmati hubungan yang ada, maka kita akan semakin dapat menikmati kehidupan ini. Dan ada satu kekosongan dalam diri manusia, yang membuat kita selalu merasa “kurang”, “kehausan” yang tidak pernah “terpuaskan”, merasakan ada suatu “misteri”, dan hal itu hanya dapat diisi dan dipuaskan dengan berdamai dengan Tuhan atau membangun hubungan dengan Tuhan. Untuk apakah jika kita dapat meraih segala-galanya tetapi jika kita tidak pernah merasa tenang dalam hidup ini? Merasa kosong dan tidak puas? Milikilah kedamaian dengan Tuhan, diri sendiri dan orang-orang disekeliling kita. Kesuksesan terjadi jika kita berhasil membangun hubungan.Dan sebagai seorang pemimpin berarti kesuksesan kita dalam memimpin adalah jika kita mampu “menciptakan kedamaian” dengan jalan memenangkan hati orang yang kita pimpin serta membuat mereka sebagai satu kesatuan tim yang solid – dapat bekerjasama dengan baik, dan “memaksimalkan potensi” segala sumber daya yang ada dan orang yang kita pimpin sampai mereka dapat muncul sebagai next leader, serta menggerakkan semua orang untuk bersama-sama “menggenapi tujuan” yang ada. (ANGGA PRASETYA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar